Singapura mengumumkan akan mengakhiri lockdown parsial atau yang disebut sebagai Circuit Breaker pada 1 Juni yang akan datang.

Akan tetapi pencabutan tersebut tidaklah menjadikan kehidupan di Singapura akan normal seperti sebelum adanya COVID-19.

Menteri Kesehatan Gan Kim Yong mengatakan bahwa Singapura akan memasuki new normal di era wabah corona secara hati-hati dengan 3 tahap.

Pertama pada 2 Juni, akan dilakukan untuk beberapa pekan tergantung pada jumlah angka infeksi komunal COVID-19 dan apakah kondisi penyebaran virus di asrama pekerja asing yang telah dapat terkontrol oleh pemerintah Singapura.

Angka infeksi komunal saat ini telah berada di posisi stabil yaitu 1 hingga 4 kasus perhari. Gan mengatakan bahwa angka ini kemungkinan akan kembali naik ketika kebijakan Circuit Breaker berakhir.

Singapura Tetap Akan Terapkan Larangan Nongkrong Walaupun Akan Mencabut Lockdow Pada 1 Juni Ini
Singapura Tetap Akan Terapkan Larangan Nongkrong Walaupun Akan Mencabut Lockdow Pada 1 Juni Ini

Pemerintah Singapura sendiri telah menekankan bahwa mereka tidak akan berpikir dua kali untuk memberlakukan kebijakan Circuit Breaker jika keadaan memaksa mereka harus melakukannya.

Warga diperintahkan untuk tetap berdiam di rumah dan hanya keluar ketika harus dibutuhkan seperti membeli makanan, itupun harus dengan menggunakan masker.

Khusus untuk lansia diminta untuk tetap tinggal di rumah dan menghindari kontak fisik yang tidak perlu dengan dunia luar. Kegiatan kunjung-mengunjungi juga tetap dilarang kecuali untuk mengunjungi orang tua atau kakek nenek yang tinggal tidak serumah itu pun harus dengan adanya agenda penting dan dibatasi hanya sekali sehari dan maksimal 2 orang yang diizinkan untuk bertandang.

Aktivitas seperti nongkrong atau berkumpul tetap dilarang. Hanya acara pemberkatan pernikaham, persemayaman jenazah dan prosesi kuburan yang medapatkan izin untuk diadakan dengan maksimal hanya 10 orang.

Tempat ibadah akan dibuka kembali akan tetapi dengan ketentuan aktivitas beribadah pribadi yang dihadiri maksimal 5 orang yang hidup serumah.

Perkumpulan sosial yang menjadi sorotan setelah beredarnya foto di Facebook yang memperlihatkan belasan warga berkulit putih yang berani nongkrong sambil minum bir disekitar Robertson Quay, tepi Sungai Singapura pada akhir pekan lalu.

Warga yang merupakan ekspartriat ini terlihat duduk santai tanpa menggunakan masker dan berjarak kurang dari 1 meter antara satu sama lain sesuai dengan peraturan pada Circuit Breaker.

Foto tersebut menghebohkan Singapura dan memicu kemarahan dari warga Singapura yang mempertanyakan mengapa individu tersebut tidak ditindak sama sekali oleh aparat.

Menteri Lingkungan dan Sumber Daya Air Masagos Zulkifli mengungkapkan bahwa kepolisian telah melakukan investigasi pada individu tersebut dan mereka semua akan ditindak sesuai dengan aturan yang berlaku dan tidak tertutup kemungkinan akan di ekstradisi jika dianggap melakukan pelanggaran berat.

Perkumpulan sosial baru akan diizinkan ketika Singapura telah memasuki tahap kedua, namun dilakukan dalam kelompok kecil.

Pada tahap kedua ini, tempat yang masih tidak diizinkan untuk beroperasi pada tahap pertama seperti toko retail pada pusat perbelanjaan, gym, psaut rekreasi telah dapat kembali beroperasi dengan jumlah pengunjung yang dibatasi.

Warga yang yang saat ini masih harus membungkus makanan untuk dibawa pulang akan diizinkna kembali menyantap makanan di restoran, hawker, food court dan kafe pada tahap kedua ini.